Kasiyemuptd’s Weblog



PENTINGNYA MENGETAHUI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Banyak orang menggunakan istilah “ pertumbuhan “ dan “ perkembangan “ secara bergantian. Dalam kenyataan kedua istilah itu berbeda, walaupun dapat dipisahkan, namun keduanya tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Tidak saja anak itu menjadi lebih besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur organ dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak, anak itu mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat, dan berfikir. Anak tumbuh, baik secara mental maupun fisik.

Sebaliknya perkembangan, berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif. Ia dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. “Progresif” menandai perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. “Teratur” dan “koheren” menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang akan mengikutinya ( Hurlock ).

Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak, dilihat dari berbagai aspek, antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungannya). Orang tua sebaiknya memperhatikan perkembangan anak sejak dini, bahkan sejak orang tua berencana untuk memiliki anak. “Kesiapan orang tua untuk memiliki anak akan sangat memengaruhi perkembangan anak tersebut selanjutnya,” kata Fabiola P. Harlimsyah, M.Psi.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah perkembangan pada anak, yaitu kondisi ibu waktu hamil, ketika bayi dilahirkan, dan kesehatan bayi di bulan-bulan awal kehidupannya. Pada waktu terjadi pembuahan, seorang janin telah membawa sifat-sifat genetik, bisa sifat yang diturunkan oleh orang tuanya, bisa pula terjadi mutasi genetik sehingga timbul kelainan genetik, misalnya Sindroma Down. Pada waktu seorang wanita hamil ada beberapa masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi perkembangan anaknya kelak, misalnya infeksi Rubella, Citomegalo, Herpes, Toxoplasma, dan sebagainya. Masalah lain yang berpengaruh langsung pada kesehatan wanita hamil antara lain tuberkulosa, kurang gizi, tekanan darah tinggi, kencing manis, kebiasaan merokok, minuman keras, dan narkoba.

Saat kelahiran seorang bayi dipenuhi dengan berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu perkembangannya. Pada umumnya peristiwa buruk saat kelahiran akan mengurangi asupan oksigen ke otak bayi. Bila keadaan kurang oksigen ini berlangsung cukup lama sehingga ada sel-sel otak yang rusak, maka perkembangan anak kelak akan mengalami masalah. Gangguan yang datang bersama faktor genetik ini akan menimbulkan masalah perkembangan yang unik, tergantung dari bagian otak mana yang mengalami masalah dan sifat genetik yang dimilikinya.

Setelah lahir masih mungkin timbul keadaan tertentu yang dapat berpengaruh pada perkembangan, misalnya pada bayi dini terjadi kuning, infeksi berat yang mengenai otak, kejang dan sebagainya. Pada usia dini, kontaminasi logam berat berlebihan, seperti timbal, dapat berpengaruh pula pada perkembangan anak. Pencegahan masalah perkembangan yang spesifik belum ditemukan. Tetapi, perawatan pada ibu hamil dan melahirkan yang baik akan melindungi si anak dari berbagai faktor risiko yang telah disebutkan tadi. Selanjutnya perawatan bayi dan anak yang baik akan menghindarkan si bayi dari berbagai infeksi dan zat-zat yang dapat mempengaruhi perkembangan.

 Islam telah menempatkan wanita pada posisi yang mulia dengan tugasnya sebagai ibu.  Tanpa keikhlasan dan kerelaan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini.  Demikian pula dengan kerelaannya dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, hal itu akan berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak.  Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.

Apabila seorang ibu memiliki kepribadian agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik.
Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan.  Disamping itu, anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berpikir.  Ia belum mampu menterjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya.  Kekuatan figur ibu  akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya.  Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai.

Para pakar pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan.   Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat untuk berperan sebagai qudwah pertama bagi anak. Ibulah yang paling besar peranannya dalam memberi warna pada pembentukan kepribadian anak, sehingga dibutuhkan ibu yang berkualitas yang akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Pembinaan kepribadian anak menjadi  tanggung jawab orang tua terutama ibu.  Keluarga berperan menjadi wadah pertama pembinaan agama dan sekaligus membentenginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar.  Peran orang tua terutama ibu menjadi penting karena ibulah yang paling tahu bagaimana perkembangan dan kemajuan anak, baik fisik maupun mentalnya. 

 Kehadiran orang tua (terutama ibu) dalam perkembangan jiwa anak amat penting.  Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan  sebagainya, maka anak akan mengalami “deprivasi maternal”.  Deprivasi maternal dengan segala dampaknya dalam perkembangan dapat terjadi tidak hanya jika anak semata-mata kehilangan figur ibu secara fisik (loss), tetapi juga bisa dikarenakan tidak adanya (lack) peran ibu yang amat penting dalam proses imitasi dan identifikasi anak terhadap ibunya.  Deprivasi maternal pada anak usia dini jauh lebih besar pengaruhnya daripada anak pada usia yang lebih besar.  Keadaan ini menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus.  Sering dijumpai pada anak-anak yang semacam ini suatu gangguan yang dinamakan “Attachment Disorder” atau “Failure to Thrive”.  Pada kelainan kejiwaan semacam ini biasanya anak telah  mengalami penyimpangan (distorsi).

Aspek-aspek perkembangan anak yang harus diketahui orang tua

 

1.         Perkembangan fisik :

Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. “Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri,” jelas Feiby. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.

Mana yang lebih penting? “Keduanya diperlukan agar anak dapat berkembang optimal,” lanjut Feiby. Bedanya, kalau perkembangan motorik kasar sangat tergantung kematangan anak. “Kita tak bisa memosisikan anak untuk berjalan atau berlari saat itu juga, padahal anak belum siap baik secara fisik maupun psikis misalnya.” Sementara motorik halus bisa dilatih. “Anak-anak yang perkembangan motorik halusnya kurang, biasanya disebabkan stimulasi dari lingkungan juga kurang.” Latihan menulis, meronce atau meremas-remas lilin misalnya bisa dilakukan melatih motorik halus.

2.         Perkembangan emosi

Ini harus dipupuk sejak dini. Misalnya, orang tua harus bisa memberikan kehangatan, sehingga anak akan merasa nyaman. “Anak juga akan belajar dari model di lingkungannya. Nah, apa yang ia rasakan akan ia berikan kembali ke lingkungannya. Jika orang tuanya bersikap hangat, ia pun akan bersikap yang sama terhadap lingkungannya,” ujar Feiby. Bayangkan jika orang tua tak pernah memberikan kehangatan pada anak. “Anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang tentu akan memengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan.” Akibat lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu dengan orang, dan sebagainya.

3.         Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif atau proses berpikir anak adalah proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis. “Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berpikir,” ujar Feiby.

Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak anak mulai memahami kata. “Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan memahami kata, bisa dimasukkan informasi-informasi sederhana. Misalnya, aturan-aturan yang ada di lingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep dasar, seperti warna, angka, dan sebagainya,” jelas Feiby seraya menegaskan bahwa proses pengenalan ini harus dilakukan dengan cara bermain.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit anak mengungkapkan pikiran. “Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.”

4.         Perkembangan psikososial

Berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Misalnya, di usia setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman-teman seusianya. “Jika anak sudah punya kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga sebaiknya juga dikenalkan dengan lingkungan baru. Ajarkan ia cara beradaptasi.”

Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, bisa juga jadi pemalu. “Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi sulit berpisah dengan orang tua, sulit mengerjakan segala sesuatuya sendiri karena tidak pernah diberi kesempatan untuk itu.”

Jadi kita dalam menghadapi semua ini kita harus teliti dan sabar agar supaya kita tidak kecolongan dalam menyingkapi perkembangan anak usia dini. Pada masa-masa anak mulai tumbuh dan berkembang anak harus mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya supaya anak merasa aman dan nyaman dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Disamping perhatian yang ekstra cakupan gizi juga harus terpenihi sehingga dengan memberikan makanan-makanan yang cukup bergizi anak akan terpenuhi pertumbuhan dan perkembangan baik jasmani maupun rohani serta kecerdasan intelektualnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: